RSS

Pelajaran dari (ber) Sandal (ke) Masjid

08 Aug

Saat-saat bulan puasa seperti ini masjid dekat kantor saya lumayan penuh. Yah mungkin ada yang murni karena ingin mendekatkan diri pada Allah SWT ataupun karena ada yang punya motif lain…. tidur misalnya -hihihi-.

Ada banyak kebaikan yang bisa didapat dari sholat berjamaah -setidaknya bagi saya ya- yaitu konsentrasi tidak gampang terpecah dan tidak banyak pikiran-pikiran “kreatif” lain yang sekedar numpang lewat.

Namun disamping itu adapula yang buat saya agak sedikit mengernyitkan dahi saat sandal saya menghilang  diculik entah kemana, terutama setelah sholat jum’at. Dulu saya sering berharap agar sandal saya hanya dipinjam dan bisa dikembalikan paling tidak saat azhar (oleh para penculiknya) namun hal tersebut tidaklah pernah terjadi. Sedangkan untuk melaporkan ke kantor polisi setelah hilang lebih dari 1×24 jam rasanya juga enggak mungkin, karena saya tidak punya bukti dan surat kelengkapan maupun foto akan sandal tersebut. Bisa-bisa dibilang membuat laporan palsu…..

Dalam kurun waktu 1-2 tahun saya pernah kehilangan 2-3 kali sandal. Wah… saya sempat berpikir bahwa disana memang ada yang dendam sama saya sehingga sandal saya selalu diincar.. -hahahaha…suudzon nih-. Hal yang sama -paling tidak- pernah dialami oleh rekan-rekan sekantor saya.

Belajar dari kondisi ini akhirnya saya mulai memberi ciri pada sandal saya yang sempat bertahan atau survived-lah kalo kata orang-orang bule, Mulai dari memberi selotip di tali sandal bahkan mencoba memanfaatkan kembali sandal yang talinya putus….( biar ga ada yang niat ngambil dan ternyata masih bisa berfungsi lho, cuman perlu pd aja sewaktu memakainya, toh tidak melanggar norma kesopanan…😀 ). Dan trik terakhir tersebut lumayan ampuh juga untuk dipakai sholat jum’at. terbukti selama 3 tahun terakhir sandal itu tetap setia menjadi alas kaki saya. Ya, inilah si biru.

Cerita selanjutnya adalah saat saya mulai punya sandal baru berwarna hijau. Lumayan mahal dibanding sandal terdahulu dan jujur saja lebih enak dipakai daripada si biru yang sering slip karena bahannya dari plastik licin. Si ijo ini sering saya pakai dikantor dan juga saat sedang berpetualang ke toko sebelah maupun ke masjid pada hari-hari biasa selain jum’at tentunya. Saya tidak yakin kalau si ijo bisa survived seperti si biru yang jelas-jelas lebih senior.

Hal yang bisa saya lakukan hanyalah memberi ciri minimum pada tali sandal. Kasih spotlight lalu tempeli selotip. Untuk memberi nama langsung dengan ‘melukai’ sandal, wah saya tidak sekejam itu kok ijo…

Beberapa hari kemarin akhirnya saya (sempat) berperan dalam sisi yang berseberangan, bagaikan anakin skywalker yang terbius oleh kekuatan the dark force. Siang itu saya ke masjid bersama si ijo. Sholat berjamaah seperti biasa. Namun saat keluar saya sempat menunggu di tangga keluar masjid. No-no…Bukan untuk memilih sandal mana yang akan saya pakai. Namun karena ada mobil yang menghalangi jalan dan saya malas berpanas-panas mengantri dibelakang mobil tersebut sambil menghirup asapnya, lagipula saya sudah tau posisi si ijo dari posisi saya berdiri.

Setelah si mobil berlalu, si ijo saya pakai dan saya segera kembali ke kantor. Hmm… kok rada aneh. Si ijo terasa melengkung dan sedikit memanjang. Apakah memang seperti ini? Rasanya tadi rasanya rata-rata saja di telapak kaki. Astagfirullah…. ternyata ini bukan si ijo punya saya.  Walau sama-sama hijau, yang ini pasti lebih senior karena agak melengkung, dan setelah dilihat-lihat ternyata spotlight yang dulu saya tempel ternyata tidak ada.

Saya segera kembali ke masjid. Dan tampaklah si ijo disana, terdiam termenung, mungkin memikirkan apa kesalahannya sehingga majikannya memilih sandal yang yang lain….Pada hari ini saya merasakan menjadi ‘penculik’ sandal. Mengalami peristiwa ini akhirnya saya mengambil beberapa pelajaran penting:

  1. Ingatlah posisi sandal anda, ciri-cirinya, dan rasa saat dipakai.
  2. Para penculik sandal tidak selalu berniat untuk mengambil sandal yang bukan miliknya. Bisa jadi sandal anda mirip dengan sandalnya. Baik bentuk, warna dan ukuran. Kalau masalah baunya sih silakan test masing-masing karena saya terus terang belum pernah membaui sandal saya sendiri.
  3. Jika sudah merasa sandal yang diambil bukan miliknya, segeralah kembali ke masjid tempat anda sholat tadi, dan carilah sandal anda yang sebenarnya, dan jika anda melihat di dekat sandal anda yang terlihat geram (dan tampak ingin membacok orang) segeralah tegur dan tanyakan apakah sandal yang anda pakai sekarang adalah sandalnya dan lalu minta maaflah. Dalam kasus saya kebetulan pemilik aslinya masih di masjid…hihihi.
  4. Jika anda sudah kembali ke masjid untuk mengembalikan sandal yang salah pakai tadi dan ternyata anda sudah tidak menemukan sandal anda, sebaiknya tinggalkan saja disana sandal “salah pakai” tersebut di tangga masjid. Ingat, yang anda pakai bukan sandal anda.
  5. Jika sandal anda hilang, bukan artinya anda dibenarkan untuk mengambil sandal yang mirip. Karena itu hanya akan membuat kesal dan dongkol pemilik aslinya….(bisa-bisa pemilik aslinya nanti jadi malas ke masjid karena sandalnya sering hilang lho).

Alhamdulillah dari beberapa peristiwa kehilangan sandal dan ‘percobaan’ menghilangkan sandal orang lain, saya masih dihindarkan dari perbuatan yang lebih hina lagi, yaitu dengan kesadaran dan niat untuk mengambil sandal yang bukan milik saya. Alhamdulillah karena kantor saya dekat dengan masjid sehingga walaupun (dulu) sandal saya sempat hilang, saya masih bisa pulang bertelanjang kaki ke kantor karena tidak menemukan tukang sandal. Dan alhamdulillah saat dulu ditanya saya bisa bilang “sandal saya hilang diambil orang lain, karena memang sudah saya tunggu sampai akhir, memang sandal saya tidak berada ditempatnya” dan bukannya menjawab “hehe… ini sandal baru ngembat dari orang lain”. Alhamdulillah. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari hal-hal kecil

 
14 Comments

Posted by on August 8, 2011 in umum

 

Tags: , , ,

14 responses to “Pelajaran dari (ber) Sandal (ke) Masjid

  1. Angga

    August 8, 2011 at 12:07

    solusinya pake sepatu bro:mrgreen:
    Alhamdulillah saya belum pernah (& jangan sampe) ngalamin

     
    • jakatimur

      August 9, 2011 at 05:56

      kalau pake sepatu, jadi wajib nitip.😀

       
  2. karis

    August 9, 2011 at 07:46

    hahaha…simple story but commonly happened (sok english nih….). Sebenarnya ada tip yg lebih ampuh mas bro, tapi mmg rada ribet dikit sih, yaitu pisahkan posisi dua sandal kita, kanan di pojok misalnya dan kiri di pojok lainnya. Dijamin aman deh…Insya Allah. Pengalaman nih….

     
    • jakatimur

      August 9, 2011 at 11:55

      saya suka gak tega untuk memisahkan mereka😀

       
  3. setia1heri

    August 10, 2011 at 08:21

    laik dis
    melatih kesabaran mazbro😛

     
    • jakatimur

      August 10, 2011 at 09:58

      iya betul bro… dan belajar ikhlas😀

       
    • jakatimur

      August 10, 2011 at 12:05

      betul. mudah diucapkan, susah dilaksanakan…😀

       
  4. Suzuki Mania

    August 11, 2011 at 21:34

    Warungnya udah buka lagi. Like this.

     
  5. uDien d'kab

    August 19, 2011 at 07:56

    salam kenal masbro,
    jakatimur itu adiknya jakabarat yah .. heheheh …

     
    • jakatimur

      August 19, 2011 at 08:31

      bukaaaaannnnn…. saya kakaknya😀

       
  6. ipanase

    August 20, 2011 at 07:12

    kerennnnnnnnnn, sapety bgt

     
    • jakatimur

      August 20, 2011 at 13:47

      lebih safety lagi jika kuping sandal kiri digembok ke kuping sandal kanan…😀

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: